BAB II
PEMBAHASAN
I. Terjemahan Surat An-Nisaa ayat 29
يآَ يُّهَا ا لَّذِ يْنَ ا مَنُوْ ا لاَ تَأْ كُلو ا اَ مْوَلَكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ ا لاّ اَ نْ تَكُوْ نَ تِجَا رَ ةً عَنْ تَرَا ضٍ مِنْكُمْ وَ لاَ تَقْتُلُو ا اَ نْفُسَكَمْ اِ نَّ ا لله كَ نَ بِكُمْ رَ حِيْمًا
Artinya :
“ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil ( tidak benar ), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha penyanyang kepadamu.[1]
II. Arti Kata
Kata ( اَ مْوَ ا لَكُم ) yang dimaksud adalah harta benda yang beredar dalam masyarakat. Kata (( بَيْنَكُم artinya di antara kamu. ا لبَا طل)) yakni, pelanggaran terhadap ketentuan agama atau persyaratan yang disepakati. ( عن تر ا ض منكم) yaitu istilah yang digunakan untuk menekankan keharusan adanya kerelaan kedua belah pihak.[2]
III. Tafsir
Allah swt melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sesamanya dengan cara yang batil dan cara-cara mencari keuntungan yang tidak sah dan melanggar syariat sepert riba’, perjudian dan yang serupa dengan itu dari macam-macam tipu daya yang tampak seakan-akan sesuai dengan hukum syariat, tetapi Allah mengetahui bahwa apa yang dilakukan itu hanya suatu tipu muslihat dari si pelaku untuk menghindari ketentuan hukum yang telah digariskan oleh syariat Allah. Misalnya sebagaimana digambarkan oleh Ibnu Abbas s. r menurut riwayat Ibnu Jarir, seorang lelaki yang membeli dari kawannya sehelai baju dengan syarat bila ia tidak menyukainya dapat mengembalikannya dengan tambahan satu dirham di atas harga pembeliannya.
Allah mengecualikan dari larangan ini pencarian harta dengan jalan perniagaan yang dilakukan atas dasar suka sama suka oleh kedua pihak yang bersangkutan.[3]
“Kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kamu.”
Ungkapan ini merupakan bentuk istisna munqati’. Seakan-akan dikatakan, “Janganlah kalian menjalankan usaha yang menyebabkan perbuatan yang diharamkan, tetapi berniagalah menurut peraturan yang diakui oleh syariat, yaitu perniagaan yang dilakukan suka sama suka di antara pihak pembeli dan pihak penjual; dan carilah keuntungan dengan cara yang diakui oleh syariat.”[4] Perihal sama dengan istisna yang disebutkan di dalam firman-Nya :
“Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
Ujung ayat ini datang setelah larangan memakan harta orang lain secara batil. Maka, hal ini memberikan kesan terhadap dampak kehancuran yang dipicu oleh tindakan memakan harta orang lain secara batil dalam kehidupan bermasyarakat, bahwa tindakan itu sebagai tindakan pembunuhan. Allah hendak memberikan rahmat-Nya kepada orang-orang yang beriman, ketika Dia melarang mereka dari perbuatan itu.
Demikianlah, maka tidaklah dipergunakan cara-cara memakan harta orang lain dengan batil di kalangan masyarakat seperti dengan riba, menipu, berjudi, menimbun, memanipulasi, curang, akal-akalan, menyuap, mencuri, dan menjual kehormatan, tanggung jawab, hati nurani, akhlak, dan agama yang biasa dilakukan dalam masyarakat jahiliah kuno maupun modern. Tidaklah diberlakukan hal-hal semacam ini pada suatu masyarakat, melainkan hal itu akan membunuh diri mereka dan menjerumuskan mereka ke jurang kehancuran.
Allah hendak memberikan kasih sayang-Nya kepada orang-orang beriman agar selamat dari pembunuhan yang menghancurkan kehidupan dan mencelakakan jiwa itu. Ini adalah merupakan satu bentuk keinginan Allah untuk meringankan mereka, dan mengingat kelemahan mereka sebagai manusia yang dapat menjerumuskan mereka kepada kebinasaan kalau mereka lepas dari pengarahan Allah.[5]
IV. Kandungan Surat An-Nisaa ayat 29
1. Larangan untuk sesorang memakan harta orang lain dengan cara memusnahkan harta benda, merusak kehormatannya dan merampasnya dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syara’.
2. Larangan untuk membunuh diri kamu sendiri, membunuh orang lain secara tidak hak karena orang lain adalah sama dengan kamu.
3. Larangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan tersier maupun kebutuhan sekunder dengan harta yangt diperoleh secara bathil.
4. Anjuran ketika akan melakukan kerja sama hendaknya tidak saling merugikan.
5. Larangan melakukan transaksi/perpindahan harta yang tidak mengantar masyarakat kepada kesuksesan, bahkan mengantarnya kepada kebejatan dan kehancuran.
6. Anjuran untuk mencari harta dengan cara yang baik, yaitu dengan jalan perniagaan dan saling ridlo satu sama lain.
V. Hubungan Atau Relevansi Dengan Ayat Lain.
Relevansi surat An-Nisaa ayat 29 dengan surat Al-Baqarah ayat 188.
Di dalam surat Al-Baqarah disebutkan:
وَلاَتَأْ كُلُوْااَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِاْلبَاطِلِ وَتُدْلُوْابِهَااِلَى اْلحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْافَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.(البقرة: )
Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain diantara kalian dengan jalan yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, dengan maksud agar dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui. (Q. S. 2 al-Baqarah: 188).
Secara terpadu, kedua ayat yaitu An-nisa’:29 dan Al-Baqarah: 188 menunjukkan bahwa memusnahkan harta benda, merusak kehormatannya dan merampasnya dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh Syara’ merupakan pembunuhan manusia-manusia dan mematikan unsur kehidupan serta merupakan dosa besar.
Tak pelak lagi, bahwa harta benda yang disebutkan di dalam dua ayat di atas mencakup harta benda individu dan ummat. Individu diharamkan makan harta orang lain dengan jalan batil yang tidak dibenarkan oleh adat kebiasaan yang benar atau oleh akal yang sehat. Demikian pula makan harta ummat atau menempatkannya bukan untuk kemaslahatan, lebih keras diharamkan oleh Allah swt. Dan menurut pandangan kemanusiaan dosa makan harta tersebut lebih besar. Jika menyia-nyiakan harta individu termasuk penganiayaan pribadi, maka menyia-nyiakan harta umat merupakan penganiayaan hak umum. Padahal lazimnya harta individu langsung diamankan oleh pemiliknya, sedangkan harta umat tidak jelas pembelanya. Di dalam syari’at, hak umum ini dinamakan hak Allah, dia tidak mempunyai kekuatan yang memelihara hak-Nya, kecuali tangan yang memelihara dan mengelolanya. Dari penjelasan diatas bisa diambil suatu contoh memakan harta dengan cara yang batil itu seperti ; memakan harta dengan jalan riba, mencuri, menipu, merampok, dll.[6]
VI. Pembahasan
Macam-macam cara memakan harta dengan bathil , yang dimaksud dengan bathil yaitu yang tidak dibenarkan oleh adat kebiasaan yang benar dan akal yang sehat. Di antara contoh cara memakan harta dengan cara yang bathil yaitu, dengana cara:
1. Riba
Riba menurut bahasa Arab ialah lebih ( bertambah ). Adapun yang dimaksud di sini menurut istilah syara’ adalah akad yang terjadi dengan penukaran yang tertentu, tidak diketahui sama atau tidaknya menurut aturan syara’ atau terlambat menerimanya.
Firman Allah swt:
يا يّها ا لّذ ين ا منو ا لا تأ كلو ا لرّ بو ا ضعا فا مضعفة وّ ا تّقو ا ا لله لعلّكم تفلحو ن .
“ hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan “ ( Ali-Imran: 130 ).
Firman Allah swt:
و ا حلّ ا لله ا لبيع و حرّ م ا لرّ بوا
“ Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” ( Al-Baqarah: 275 ).
Sabda Nabi saw
عن جا بر لعن ر سو ل ا لله صلّي عليه و سلّم ا كل ا لرّ با و مو كلّه و كا تبه و شا هد يه . روا ه مسلم
Dari Jabir, “ Rasulullah Saw, telah melaknat ( mengutuk ) orang yang makan riba, wakilnya, penulisnya, dan dua saksinya.” ( Riwayat Muslim ).[7]
2. Khasbu ( Merampas)
Khasbu ialah mengambil hak orang lain dengan cara paksa dan aniaya. Hukum merampas adalah haram, dosa besar.
Firman Allah swt:
و لا تأ كلو ا ا مولكم بينكم با لبا طل
“ Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. “ ( Al-Baqarah: 188 ).
و يل للمطفّفين . ا لّذ ين ا ذ ا ا كتا لو ا على ا لنّا س يستو فو ن . و ا ذ كا لو هم ا و وّ ز نو هم يخسرو ن .
“ kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang ( yaitu ) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. “ ( Al-Mutaffifin: 1-3 ).
Sabda Rasulullah Saw:
عن ا نس قا ل ا لنّبيّ صلّى ا لله عليه و سلّم لا يحلّ ما ل ا مر ى ء مسلم ا لاّ بطيب نفسه . ر و ا ه ا لد ا ر قطني
Dari Anas. Nabi Saw, telah bersabda, “ tidak halal harta seorang muslim, kecuali dengan baik hatinya ( berarti sukarela ).” ( Riwayat Daruqqutni )[8]
[1] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya ( Bandung: Sygma Examedia Arkanleema, 2009), 83.
[2] M. Quraish Shihab, tafsir Al-Misbah ( Jakarta: Lentera Hati, 2002 ), 413.
[3] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Tafsir Ibnu Katsier jil. 2, (Surabaya : Bina Ilmu, 2003), hlm. 361.
[4] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir Juz 5, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2001), hlm.38-39.
[5] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), hlm. 343.
[6] Mahmud Syaltut, Tafsir Al Qur’anul Karim 2 (Bandung : Diponegoro), hlm 384.
[7] H. Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam ( Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009 ), 291.
[8]H. Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam ( Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009 ), 339.

0 komentar:
Posting Komentar